Minggu, 29 April 2018
Jumat, 22 Desember 2017
PUNYA USAHA FOTO PRODUK MU SENDIRI
Halo Selamat
Pagi semuanya, buat kamu yang baca ini pasti kamu punya sebuah usaha sendiri. Aku
jamin. Mungkin sebagian besar, Nah kali ini aku mau kasih tau ke kalian nih.
Betapa pentingnya Foto Produk, tapi bukan ngambil dari Google ya, bukan ngedit
punya orang melainkan Foto Produkmu sendiri.
Tapi kalian
bingung karena kalian gabisa moto, atau takut jelek. Gaboleh gitu, kali ini aku
mau ngajarin ke kalian gimana caranya Foto Produkmu berkelas dengan hanya pakai
peralatan yang ada.
Step 1,
Peralatan yang kamu butuhkan
- - Kamera HP minimal 8MP
- - Kertas Karton
- - Flash HP / Lampu Emergency
- - Lakban / DoubleTip
Tempelkan
karton Hitam di sebuah tembok , maka taruh sebuah produk mu, pasang Flash HP
menyorot ke sebuah produkmu, dan silahkan Jeprat-Jepret.
Step 2, Cara
pengambilannya.
Nah untuk
cara pengambilannya ini aku bakal bingung banget ngasih Taunya lewat sebuah
artikel, maka jika kalian emang bener” pengen tau, cara Foto Produkmu sendiri
menggunakan Alat Sederhana.
Maka dengan
respon baik aku akan membuatkan video tutorial “Product Hacks” buat kalian
semua. Gimana? Tertarik?.
Namun jika kalian memang tidak sabar untuk menunggu sebuah video tutorialku, maka bisa langsung hubungi saya di 08995739201 (Whatsapp)
Terima Kasih telah membaca.
Kamis, 07 Desember 2017
TEKNIK DASAR FOTOGRAFI
A. Fotografi
Fotografi ( Photography ) berasal dari kata Photo (Cahaya) dan Grafo ( menulis / menggambar ), sehingga dapat diartikan bahwa fotografi adalah suatu teknik menggambar dengan cahaya. Atas dasar tersebut, jelas bahwa cahaya sangat berperan penting dan menjadi sumber utama dalam memperoleh gambar (tanpa cahaya tidak akan ada hasil foto).
B. Kamera SLR
B. Kamera SLR
Kamera SLR ( Single Lens Reflex ) atau Kamera D-SLR ( Digital ) merupakan kamera dengan jendela bidik (Viewfinder) yang memberikan gambar sesuai dengan sudut pandang lensa melalui pantulan cermin yang terletak di belakang lensa. Pada umumnya kamera biasa memiliki tampilan dari jendela bidik yang berbeda dengan sudut pandang lensa karena jendela bidik tidak berada segaris dengan sudut pandang lensa .
Fotografi berkaitan erat dengan cahaya (jadi untuk menghasilkan sebuah foto diperlukan adanya cahaya, tanpa ada cahaya maka tidak akan ada foto), maka kamera berfungsi untuk mengatur cahaya yang ditangkap image sensor ( sensor gambar pada kamera digital atau film pada kamera konvensional ). Untuk mengatur cahaya, terdapat 2 hal mendasar dalam kamera, yakni Shutter Speed (Kecepatan Rana) dan Aperture (Diafragma).
Panjang lensa mempengaruhi:
a. JARAK pemotretan
b. SUDUT pandang
c. PEMBESARAN
d. FASILITAS BUKAAN DIAFRAGMA
Lensa Khusus:
a. Lensa Makro (biasa disebut Macro Lens)
b. Penambahan panjang lensa (biasa disebut Tele Converter atau Extender)
c. Lensa pengoreksian perspektif pada subjek
d. Lensa Lunak (biasa disebut Soft Focus Lens)
Jadi, korelasi antara shutter speed dan aperture adalah bahwa semakin besar bukaan lensa maka shutter speed akan semakin cepat, sebaliknya semakin kecil bukaan lensa maka shutter speed akan semakin melambat.
Fotografi berkaitan erat dengan cahaya (jadi untuk menghasilkan sebuah foto diperlukan adanya cahaya, tanpa ada cahaya maka tidak akan ada foto), maka kamera berfungsi untuk mengatur cahaya yang ditangkap image sensor ( sensor gambar pada kamera digital atau film pada kamera konvensional ). Untuk mengatur cahaya, terdapat 2 hal mendasar dalam kamera, yakni Shutter Speed (Kecepatan Rana) dan Aperture (Diafragma).
C. Lensa
Dalam fotografi, lensa berfungsi untuk memokuskan cahaya hingga mampu membakar medium penangkap (film). Di bagian luar lensa biasanya terdapat tiga cincin, yaitu cincin panjang fokus (untuk lensa jenis variabel), cincin diafragma, dan cincin fokus.
PANJANG LENSA
Panjang lensa biasa disebut Focal LengthPanjang lensa mempengaruhi:
a. JARAK pemotretan
b. SUDUT pandang
c. PEMBESARAN
d. FASILITAS BUKAAN DIAFRAGMA
Lensa Khusus:
a. Lensa Makro (biasa disebut Macro Lens)
b. Penambahan panjang lensa (biasa disebut Tele Converter atau Extender)
c. Lensa pengoreksian perspektif pada subjek
d. Lensa Lunak (biasa disebut Soft Focus Lens)
Macam-macam lensa
- Lensa Standar. Lensa ini disebut juga lensa normal. Berukuran 50 mm dan memberikan karakter bidikan natural.
- Lensa Sudut-Lebar (Wide Angle Lens). Lensa jenis ini dapat digunakan untuk menangkap subjek yang luas dalam ruang sempit. Karakter lensa ini adalah membuat subjek lebih kecil daripada ukuran sebenarnya. Dengan menggunakan lensa jenis ini, di dalam ruangan kita dapat memotret lebih banyak orang yang berjejer jika dibandingkan dengan lensa standar. Semakin pendek jarak fokusnya, maka semakin lebar pandangannya. Ukuran lensa ini beragan mulai dari 17 mm, 24 mm, 28 mm, dan 35 mm.
- Lensa Fish Eye. Lensa fish eye adalah lensa wide angle dengan diameter 14 mm, 15 mm, dan 16 mm. Lensa ini memberikan pandangan 180 derajat. Gambar yang dihasilkan melengkung.
- Lensa Tele. Lensa tele merupakan kebalikan lensa wide angle. Fungsi lensa ini adalah untuk mendekatkan subjek, namun mempersempit sudut pandang. Yang termasuk lensa tele adalah lensa berukuran 70 mm ke atas. Karena sudut pandangannya sempit, lensa tele akan mengaburkan lapangan sekitarnya. Namun hal ini tidak menjadi masalah karena lensa tele memang digunakan untuk mendekatkan pandangan dan memfokuskan pada subjek tertentu.
- Lensa Zoom. Merupakan gabungan antara lensa tandar, lensa wide angle, dan lesa tele. Ukuran lensa idak fixed, misalnya 80-200 mm. Lensa ini cukup fleksibel dan memiliki range lensa ang cukup lebar. Oleh karena itu lensa zoom banyak digunakan, sebab pemakai tinggal memutar ukuran lensa sesuai dengan yang dibutuhkan.
- Lensa Makro. Lensa makro biasa digunakan untuk memotret benda yang kecil.
D. Fokus
Fokus adalah bagian yang mengatur jarak ketajaman lensa sehingga gambar yang dihasilkan tidak berbayang..E. Shutter Speed
Shutter speed atau kecepatan rana merupakan kecepatan terbukanya jendela kamera sehingga cahaya dapat masuk ke dalam image sensor. Satuan daripada shutter speed adalah detik, dan sangat tergantung dengan keadaan cahaya saat pemotretan. Semisal cahaya terang pada siang hari, maka shutter speed harus disesuaikan menjadi lebih cepat, semisal 1/500 detik. Sedangkan untuk malam hari yang cahayanya lebih sedikit, maka shutter speed harus disesuaikan menjadi lebih lama, semisal 1/5 detik. Hal ini sekaligus menjelaskan mengapa foto pada malam hari cenderung buram, bahwa shutter speed yang lebih lambat memungkinkan pergerakan kamera akibat getaran tangan menjadikan cahaya bergeser sehingga foto menjadi buram / blur.
Foto dengan shutter speed lambat
Foto dengan shutter speed cepat
F. Aperture
Aperture atau diafragma merupakan istilah untuk bukaan lensa. Apabila diibaratkan sebagai jendela, maka diafragma adalah kiray / gordyn yang dapat dibuka atau ditutup untuk menyesuaikan banyaknya cahaya yang masuk. Pada kamera aperture dilambangkan dengan huruf F kecil dan dengan satuan sebagai berikut:
f/1.2
f/1.4
f/1.8
f/2.0
f/2.8
f/3.5
f/4.0
dst...
Semakin kecil angka satuan maka akan semakin besar bukaan lensa (f/1.4 lebih besar bukaannya dibandingkan dengan f/4.0, f/2,8 lebih besar bukaannya dibandingkan dengan f/16).
f/1.4
f/1.8
f/2.0
f/2.8
f/3.5
f/4.0
dst...
Semakin kecil angka satuan maka akan semakin besar bukaan lensa (f/1.4 lebih besar bukaannya dibandingkan dengan f/4.0, f/2,8 lebih besar bukaannya dibandingkan dengan f/16).
Jadi, korelasi antara shutter speed dan aperture adalah bahwa semakin besar bukaan lensa maka shutter speed akan semakin cepat, sebaliknya semakin kecil bukaan lensa maka shutter speed akan semakin melambat.
Keterangan:
perhatikan perbedaan rentang ruang tajam pada ketiga foto diatas. Pada bukaan diafragma besar ruang tajamnya lebih sempit dan demikian seterusnya.
Tips :
Gunakan bukaan besar (angka f kecil) untuk mengisolasi background yang mengganggu. Gunakan bukaan kecil (angka f besar) untuk pemotretan lanskap (pemandangan).
Beberapa istilah dlm fotografi yang amat perlu difahami:
- APS: Advanced Photo System
- DIL : Drop in Loading
- CID : Cartridge Identification number
- FID : Film strip Identification number
- USC : Uniform Sigma Crystal/kristal sigma seragam
- Kristal sigma : Butir-butir perak halida
- AFS : Auto Focus Silent Wave Motor
- AFD : Auto Focus Distance Information
- DIR : Development Inhibitor Releaser
- SPD : Silicon Photo Diode
- LCD : Liquid Crystal Display
- LED : Light Emitting Diode, lampu
- ISO/ASA : Derajat sensitivitas film
- ISO : International Standart Organization
- ASA : American Standart Association
- DIN : Deutsche Industry Norm
- NiMH : Nikel Metal Hydride
- NiCd : Nikel Cadmium
- DRAM : Data Random Acces Memory
- RISC : Reduce Intruction Set Computer
- CCD : Charge Couple Device (pada kamera digital)
- CPL : Circular Polarizing
- USM : Ultrasonic motor
- ESP : Elektro-Selective Pattern (Sistem pengkuran cahaya otomatik, di saat kondisi kesenjangan kecerahannya sangat besar
- SLR : single Lens Reflek, kamera lensa tunggal yang menggunakan cermin dan prisma
- TLR : Twin lens Refleks, kamera yang menggunakan dua lensa , satu untuk melihat, lainnya utnuk meneruskan cahaya ke film
- Lens Mount : Dudukan lensa
- MF : Manual Fokus
- AF : Auto Fokus
- Fps : Frame per second:, satuan kecepatan pengambilan gambar dalam gambar perdetik
- DOF : Depth of Field; ruang tajam, merupakan jarak, dimana gambar masih terlihat tajam/focus, bergantung pada: diafragma, panjang lensa dan jarak objek
- GN : Guide number; kekuatan cahaya blitz merupakan perkalian antara jarak (dalam meter atau feet) dan diafragma
- AR Range : Tingkat terang cahaya dimana system aotufocus masih dapat bekerja, dalam satuan EV
- EV : Exposure Value; kekuatan cahaya. Sample, EV=0 kekuatan cahaya pada difragma f/1,0 kecepatan 1 detik
- Exposure mode : Modus pencahayaan, pada umumnya ada 4 tipe: manual, Aperture priority, Shutter priority dan Programed (auto)
- Aperture : Diafragma
- Lens Hood : Tudung lensa
- Aperture priority : Prioritas pengaturan pada diafragma, kecepatan rana otomatis
- Shutter : Rana
- Shutter Priority : Prioritas pengaturan pada kecepatan rana, diafragma otomatis
- Exposure compensation :Kompensasi pencahayaan, membuat alternatif pencahayaan dari normal menjadi lebih atau kurang
- Flash Exposure Compensation : Kompensasi pencahayaan blitzt
- Metering: Pola pengaturan cahaya, biasanya terbagi dalam 3 kategori, centerweighted, evaluative/matrix, dan spot
- Center weighted Metering : Pengukuran pencahayaan pada 60% daerah tengah gambar
- Evaluative/Matrix : Pengukuran pencahayaan berdasarkan segmen-segmen dan presentase tertentu
- Spot : Pengukuran pencahayaan hanya pada titik tertentu
- View finder : Jendela bidik
- Built in Dioptri: Dilengkapi dengan pengatur dioptri (lensa+ atau – bagi mereka yang berkacamata)
- Eye piece Blind : Tirai penutup jendela bidik
- Interchangeable Focusing Screen : Fasilitas untuk dapat mengganti focusing screen
- Focusing screen : Layar focus
- Bracheting : Pengambilan gambar yang sama menggunakan pengukuran pencahayaan yang berbeda
- Flash Sync : Sinkron kilat, kecepatan maksimum agar body dan flash masih bekerja harmonis
- TTL: Through The Lens, Sistem pengukuran pencahayaan melalui lensa
- Remote Flash : Melepaskan lampu kilat dari badan kameranya dan meletakkannya si duatu tempat untuk mendapatkan efek foto yang diinginkan
- Bounce : Cahaya lampu kilat yang di pantulkan ke langit-langit atau bidang lain sehingga cahaya menerangi objek secara merata
- Slave unit : (Lampu kilat + mata listrik/elctric eye); adalah alat abntu yang sanggup menyalakan lampu kilat bila mata itu menerima sinar dari lampu kilat lain
- Wireless TTL : Sistem pengukuran TTL tanpa melalui kabel
- Multiple exposure : Fasilitas pemotretan berulang pada fram eyang sama
- Pupup Flash : Blitz kecil, terbuat menyatu dengan body
- Stop : Satuan pencahayaan, 1 stop sama dengan 1 EV
- Red Eye Reduction : fasilitas untuk mengurangi efek mata merah yang biasa terjadi pada pemotretan menggunakan blitz pada malam hari
- PC terminal : Terminal untuk blitz di luar hot shoe
- Hot shoe : Kaki blitz
- Mirror Lock up : Pengunci cermin, agar getaran dapat dikurangi pada saat rana bergerak
- Shiftable program : Pada mode program, exposure setting dapat diubah secara otomatis dalam EV yang sama, misalnya dari 1/125 menjadi 1/250 detik, f 5.6 dmenjadi f 11
- Second Curtain Sync : Fasilitas untuk menyalakan blitz sesaat sebelum rana menutup
- Shutter release : Pelepas rana
- Self Timer : Alat penangguh waktu pada kamera
- Vertical Grip : Alat pelepas rana utnuk pengambilan secra vertical tanpa harus memutar tangan
- Data Imprint : Fasilitas pencetakan data tanggal pada film
- Reloadable to last frame: fasilitas untuk mengembalikan film yang telah digulung di tengah ke posisi terakhir yang terpakai
- Fill In flash : Blitz pengisi, dalam kondisi tidak memerlukan blitz, blitz tetap dinyalakan untuk menerangi bagian-bagian yang gelap seperti bayangan
- Intervalometer : Fasilitas epmotretan otomatis dalam jarak waktu yang tertentu
- Multispot : Pengukuran pencahayaan dari beberapa titik
- Back : Sisi belakang kamera, berfungis pula sebagai penutup film
- Bayonet : Sistem dudukan lensa yang hanya memerlukan putaran kurang dari 90 derajat untuk pergantian lensa
- Bulk film : Film kapasitas 250 exposure
- Wide lens : lensa lebar, mempunya jarak titik bakar yang pendek, lebih pendek dari 50,,, biasanya:
· 16-22mm (lensa lebar super)
· 24-35mm (lensa lebar medium
· 6-15mm (lensa mata ikan) - Push : Meningkatkan kepekaan film dalam pemotretan, missal dari ISO 100-200/lebih
- Pull : kebalikan dari Push
- Main light : Cahaya pengisi/tambahan
- Foto wedding : Potraiture berpasangan (menciptakan rekaman gambar yang romantisme, baik dari posenya maupun dari suasananya
- Foto wedding terbagi 2 yaitu:
- Neo Classic Potraiture, ialah bentuk visual foto berpasangan yang beraura romantis
- Classic wedding, ialah bentuk foto berpasangan yang harus menjadi kenangan
- Blouwer : Kipas angin yang digunakan pada pemotretan model untuk menghasilkan efek angin
- Reverse ring : digunakan untuk memasang lensa yang di balik, untuk membuat lensa makro alternatif agar cahaya yang masuk tidak bocor
- Golden section : Potongan kencana; Hukum komposisi yang mengatakan bahwa keselarasan akan tercapai kalau suatu bidang adalah kesatuan dari 2 bidang yang saling berhubungan
- Komposisi : susunan garis, bidang, nada, kontras dan tekstur dalam suatu format tertentu
- Siluet : Teknik pencahayaan untuk menampilkan bentuk objek tanpa menunjukkan detilnya
- Framing : Pembingkaian objek untuk memberi kesan mendalam/ dimensi objek foto
- Panning : Teknik pengambilan gambar dengan kesan gerak (berubahnya latar belakang menjaid garis-garis sementara objek utama terekam jelas
- Sandwich : Teknik menggabungkan foto
- Cross process : Proses silang, biasanya di lakukan pada film positiv (E6) ke film negatif (C 41), sehingga menimbulkan warna- warna baru pada foto
- Esai foto : (Biar foto yang bicara), merangkai foto menjadi cerita bertem
- xposure time kalo ga salah sih lamanya waktu kita ngebuka bukaan ( Biasanya di mode Bulb )
- Sesuai dengan artinya, Interpolasi merupakan salah satu cara yang dipakai untuk memperbesar ukuran gambar dengan memultiplikasi pixel ukuran gambar yang diduplikasi menjadi lebih besar. Biasanya gambar interpolasi bila dilihat dengan teliti akan menurunkan ketajaman gambar karena bukan hasil asli keluaran dari sensor.
- HSM : Singkatan dari Hypersonic Motor. Artinya kurang lebih sama dengan USM, auto fokus cepat dan tidak bersuara. Kode ini akan Anda temukan di lensa merek Sigma.
- AF-S : Sama dengan kode diatas, kode ini akan Anda temukan di lensa merek Nikon.
- SAM : Sama dengan kode diatas, kode ini akan Anda temukan di lensa merek Sony.
- AF : Lensa Nikon yang tidak memiliki auto fokus built-in. Di kamera pemula Nikon seperti D60 dan D5000, tidak bisa mengunakan lensa ini untuk auto fokus, tapi harus dengan manual fokus.
- VR : Singkatan dari Vibration Reduction, fungsinya sama dengan Image Stabilization.
- OS : Singkatan dari Optical Stabilization, fungsinya sama dengan Image Stabilization. Kode ini akan Anda temukan di lensa Sigma.
- VC : Singkatan dari Vibration Compensation, fungsinya sama dengan Image Stabilization. Kode ini akan Anda temukan di lensa Tamron.
- DX, DT, DC : Kode lensa yang di optimalkan untuk kamera sensor krop. Kode ini akan Anda temukan di lensa Nikon, Sony atau Sigma.
- DG : Kode lensa yang di kompatibel untuk kamera sensor krop dan full frame. Kode ini akan Anda temukan di lensa Sigma.
- L -> kependekan dari "Luxury", biasa diplesetkan menjadi "Larang". Lensa-lensa L-series Canon adalah lensa yang berada di jajaran atas. Dibuat dengan optik-optik pilihan yang berkualitas, juga memiliki build quality yang baik dan kokoh. Lensa seri ini ditandai dengan adanya gelang merah di leher bagian depan lensa. L singkatan dari luxury alias lensa mewah yg kualitasnya tinggi.
- DO -> kependekan dari "Diffractive Optics". Lensa seri ini bila dibandingkan dengan lensa lain yang memiliki focal length dan aperture maksimal yang sama biasanya memiliki bentuk yang lebih kecil dan berat yang lebih ringan. Canon juga meng-claim lensa seri DO ini memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mengatasi chromatic aberration. Lensa ini ditandai dengan adanya gelang berwarna hijau di leher lensa bagian depan. Hingga saat ini Canon baru memproduksi 2 macam lensa dengan diffractive optics ini.
- EF -> mount lensa Canon sejak tahun 1987, mount sebelumnya bernama FD. Tambahan -S di belakang adalah kependekan dari Short Back Focus. Lensa dengan seri ini memiliki 'buritan' yang lebih nongol sehingga tidak bisa masuk ke body fullframe. Desainnya pun memang dirancang untuk body non-fullframe (APS-C) sehingga memiliki image circle yang lebih kecil daripada lensa seri EF biasa. Jika dipaksakan dipasang pada body fullframe (baik dibantu dengan extension tube atau cara lain), maka akan menghasilkan foto dengan vignetting yang cukup parah akibat jangkauan image circle tidak sampai mencakup keseluruhan frame.
- IS -> kependekan dari "Image Stabilizer". Teknologi peredam getar pada lensa yang memungkinkan lensa menstabilkan getaran tangan yang bisa menyebabkan foto shaking. Kemampuan IS biasanya diukur dengan stop rating, di mana semakin tinggi angka ratingnya, semakin baik kemampuan IS lensa tersebut dalam menstabilkan getaran.
- USM -> kependekan dari "Ultra-sonic Motor", bisa diplesetkan menjadi "Untuk Semua Momen". Lensa AF dengan motor ini biasanya memiliki kemampuan autofocus yang lebih cepat dan senyap sehingga dapat menangkap momen dengan lebih baik dan akurat.
- EF-S : jenis vatting / pangkon / bajonet / mounting
APA ITU FOTOGRAFI?
Di era digital seperti sekarang ini, fotografi bukan lagi sesuatu hal yang tabu bagi masyarakat di dunia. Fotografi kini menjelma menjadi sebuah trend atau gaya hidup dikalangan masyarakat luas semenjak berkembangnya social media. Tidak hanya fotografer dan jurnalis professional saja yang dapat menekuni dunia fotografi, masyarakat awam pun bisa asalkan memiliki kamera, baik itu kamera pada smartphone atau kamera digital.
Pengertian Fotografi
Namun sebenarnya, apa sih yang dimaksud dengan fotografi? Fotografi atau dalam bahasa Inggrisnya, photography, berasal dari kata Yunani yaitu “photos” yang berarti cahaya dan “grafo” yang berarti melukis atau menulis. Jadi, fotografi adalah proses melukis atau menulis dengan menggunakan media cahaya.
Sebagai istilah umum, fotografi berarti proses atau metode untuk menghasilkan gambar atau foto dari suatu objek dengan merekam pantulan cahaya yang mengenai objek tersebut pada media yang peka terhadap cahaya. Alat yang paling populer untuk menangkap cahaya ini adalah kamera. Tanpa cahaya, tidak ada foto yang bisa dibuat.
Prinsip dari fotografi adalah memfokuskan cahaya dengan bantuan pembiasan sehingga mampu membakar medium penangkap cahaya. Medium yang telah dibakar dengan ukuran luminitas cahaya yang tepat akan menghasilkan bayangan identik dengan cahaya yang memasuki medium pembiasan atau yang sering disebut dengan lensa.
Agar dapat menghasilkan intensitas cahaya yang tepat untuk menghasilkan gambar, digunakan bantuan alat ukur berupa lightmeter. Setelah mendapatkan ukuran pencahayaan yang tepat, seorang fotografer dapat mengatur intensitas cahaya tersebut dengan mengubah kombinasi ISO/ASA atau ISO speed, diafragma atau aperture, dan kecepatan rana atau speed. Kombinasi antara ISO, diafragma & speed disebut dengan pajanan atau exposure.
Di era fotografi digital di mana film tidak digunakan, maka kecepatan film yang semula digunakan berkembang menjadi digital ISO.
Sejarah Fotografi
Lalu kalau begitu, fotografi sudah ada sejak kapan sih? Yuk kita simak perjalanannya.
- Sejarah Fotografi di Dunia
- Pada abad ke-5 Sebelum Masehi (SM), seorang pria bernama Mo Ti mengamati suatu gejala. Jika pada dinding ruangan yang gelap terdapat lubang kecil (pinhole), maka dibagian dalam ruang itu akan terefleksikan pemandangan di luar ruang secara terbalik lewat lubang tadi. Mo Ti adalah orang pertama yang menyadari fenomena kamera obscura.
Berabad-abad kemudian, banyak yang menyadari dan mengagumi fenomena ini, seperti Aristoteles pada abad ke-3 SM dan seorang ilmuwan Arab, Ibnu Al Haitam (Al Hazen) pada abad ke-10 SM, yang berusaha untuk menciptakan serta mengembangkan alat yang sekarang dikenal sebagai kamera.
- Pada tahun 1558, seorang ilmuwan Italia, Giambattista Della Porta menyebut kamera obscura pada sebuah kotak yang membantu pelukis menangkap bayangan gambar.
- Pada tahun 1611, nama kamera obscura diciptakan oleh Johannes Kepler. Johannes Kepler membuat desain kamera portable yang dibuat seperti sebuah tenda dan memberi nama alat tersebut kamera obscura. Di dalam tenda sangat gelap kecuali sedikit cahaya yang ditangkap oleh lensa, yang membentuk gambar keadaan di luar tenda di atas selembar kertas.
- Pada tahun 1614, Angelo Sala menggunakan perak nitrat yang dibakar oleh sinar matahari dengan kertas yang dibungkus. Penemuan dengan efek sinar matahari ini dianggap kurang berguna oleh ilmuwan lain.
- Pada tahun 1717, Johann Heinrich Schulze, seorang profesor dari Jerman menggunakan botol berisi perak nitrat dan kapur yang secara tidak sengaja berada di dekat jendela. Campuran ini menjadi gelap dengan sebagian berwarna putih dan membuat garis pada botol.
Seorang ahli kimia, Carl Wilhelm Scheele menemukan ammonia larut dalam perak nitrat tetapi bukan partikel gelap. Penemuan ini bertujuan untuk menstabilkan suatu gambar perak nitrat dan dianggap sebagai penemuan eksperimen fotografi.
- Pada tahun 1800, Thomas Wedgwood, seorang berkebangsaan Inggris bereksperimen untuk merekam gambar positif dari citra pada kamera obscura berlensa, namun hasilnya sangat mengecewakan.
Kemudian, Humphrey Davy melakukan percobaan lebih lanjut dengan menggunakan chlorida perak, namun bernasib sama. Meski begitu, percobaan ini sudah berhasil menangkap imaji melalui kamera obscura tanpa menggunakan lensa.
- Pada tahun 1816, seorang seniman lithography Perancis, Joseph Nicephore Niepce menggunakan kertas yang dibungkus dengan perak nitrat berhasil membuat foto dengan kamera yang berukuran kecil.
- Pada tahun 1824, Joseph Nicephore Niepce mengexposed pemandangan dari jendela kamarnya selama 8 jam, melalui proses yang disebut dengan heliografik, di mana proses kerjanya mirip dengan lithograph, yaitu pelat logam yang dilapisi aspal pada bagian atasnya, berhasil melahirkan sebuah gambar yang agak kabur, namun dapat mempertahankan gambar secara permanen.
Kemudian, Nicephore Niepce melanjutkan percobaannya hingga tahun 1826. Ini menjadi sejarah awal fotografi yang sebenarnya. Foto yang dihasilkan itu kini disimpan di University of Texas di Austin, AS.
- Pada tahun 1835, William Henry Fox Talbot menemukan proses fotografi yang baru.
- Pada tahun 1839, desainer panggung opera yang juga pelukis, Louis Jacques Mande Daguerre, dinobatkan sebagai orang pertama yang berhasil membuat foto yang sebenarnya. Daguerre melakukan proses di mana sebuah gambar permanen pada lembaran plat tembaga perak dilapisi dengan larutan iodin dan disinari cahaya langsung selama 1,5 jam dengan pemanas mercuri atau neon yang disebut dengan daguerreotype. Untuk membuat gambar permanen, plat dicuci dengan larutan garam dapur dan air suling.
Daguerre sebenarnya ingin mematenkan temuannya itu. Akan tetapi, pemerintah Perancis berpikir bahwa temuan itu sebaiknya dibagikan ke seluruh dunia secara cuma-cuma. Sejak saat itu, fotografi kemudian berkembang dengan sangat cepat.
Pada tahun yang sama, William Henry Fox Talbot menemukan proses positif / negatif yang disebut dengan tabotype. John Herschel pun menemukan film negatif dengan larutan sodium thiosulfate / hyposulfite of soda yang disebut dengan hypo atau fixer.
- Pada tahun 1851, Frederick Scott Archer memperkenalkan proses koloid.
- Pada tahun 1854, Andre Adolphe Eugene Disderi memperkenalkan rotating camera yang dapat merekam 8 citra berbeda dalam satu film. Setelah hasilnya dicetak di atas kertas albumen, citra tersebut dipotong menjadi 8 bagian terpisah dan direkatkan pada lembaran kartu. Kartu ini menjadi inspirasi penyebutan atau carte de visite atau dalam bahasa Inggrisnya yaitu visiting card.
- Pada tahun 1861, foto berwarna yang pertama diperkenalkan oleh James Clerk Maxwell.
- Pada tahun 1868, Louis Ducos du Hauron mematenkan metode subtractive color photography.
- Pada tahun 1871, Richard Maddox menemukan film fotografis dari emulsi gelatin.
- Pada tahun 1876, F. Hurter dan V. C. Driffield memulai evaluasi sistematis pada kepekaan emulsi fotografis yang kemudian dikenal dengan istilah sensitometri.
- Pada tahun 1878, Eadweard Muybridge membuat sebuah foto high speed photographic dari seekor kuda yang berlari.
- Pada tahun 1880, George Eastman menempatkan rol film fleksibel di pasar.
- Pada tahun 1887, film Seluloid yang pertama diperkenalkan. Pada tahun yang sama, Gabriel Lippmann menemukan reproduksi warna pada foto.
- Pada tahun 1889, George Eastman memperkenalkan kamera Kodak pertama dengan slogan, “Anda menekan tombol dan kami melakukan sisanya”. Di era ini, kamera mulai bisa digunakan fotografer untuk mengeksplorasi media baru dari sudut pandang kreatif, mencoba untuk menemukan potensi dan keterbatasan, serta mendefinisikan fotografi sebagai bentuk seni.
- Pada tahun 1891, Thomas Alva Edison mematenkan kamera kinetoskopis atau motion pictures.
- Pada tahun 1895, Auguste and Louis Lumiere menemukan cinematographe.
- Pada tahun 1898, Kodak memperkenalkan produk kamera folding Pocket Kodak.
- Pada tahun 1900, Kodak memperkenalkan produk kamera Brownie.
- Pada tahun 1901, Kodak memperkenalkan 120 film.
- Pada tahun 1902, Arthur Korn membuat teknologi phototelegraphy, di mana mengubah citra menjadi sinyal yang dapat ditransmisikan melalui kabel. WirePhotos digunakan luas di daratan Eropa pada tahun 1910 dan transmisi antarbenua dimulai tahun 1922.
- Pada tahun 1907, Autochrome Lumiere merupakan pemasaran proses fotografi berwarna yang pertama.
- Pada tahun 1912, Vest Pocket Kodak menggunakan 127 film.
- Pada tahun 1913, Kinemacolor, sebuah sistem natural color untuk penayangan komersial ditemukan.
- Pada tahun 1914, Kodak memperkenalkan sistem autographic film.
- Pada tahun 1920, Yasujiro Niwa menemukan peralatan untuk transmisi phototelegraphic melalui gelombang radio.
- Pada tahun 1923, Doc Harold Edgerton menemukan xenon flash lamp dan strobe photography.
- Pada tahun 1925, Leica memperkenalkan format film 35mm pada still photography.
- Pada tahun 1932, tayangan berwarna pertama dari Technicolor bertajuk Flowers and Trees dibuat oleh Disney.
- Pada tahun 1934, Kartrid film 135 diperkenalkan, membuat kamera 35mm mudah digunakan.
- Pada tahun 1936, IHAGEE membuat Ihagee Kine Exakta 1, kamera SLR 35mm yang pertama. Pada tahun yang sama, Kodachrome mengembangkan multi layered reversal color film yang pertama.
- Pada tahun 1937, Agfacolor Neu mengembangkan reversal color film.
- Pada tahun 1939, Agfacolor membuat print film modern yang pertama dengan materi warna positif / negatif. Pada tahun yang sama, View Master memperkenalkan kamera stereo viewer.
- Pada tahun 1942, Kodacolor memasarkan print film Kodak yang pertama.
- Pada tahun 1947, Dennis Gabor menemukan holography. Pada tahun yang sama, Harold Edgerton mengembangkan rapatronic camera untuk pemerintah Amerika Serikat.
- Pada tahun 1948, Kamera Hasselblad mulai dipasarkan. Pada tahun yang sama, Edwin H. Land membuat kamera instan yang pertama dengan merk Polaroid.
- Pada tahun 1950, untuk memudahkan pembidikan pada kamera Single Lens Reflex, maka mulailah digunakan prisma dan Jepang pun mulai memasuki dunia fotografi dengan memproduksi kamera Nikon.
- Pada tahun 1952, era 3D film dimulai.
- Pada tahun 1954, Leica M mulai diperkenalkan.
- Pada tahun 1957, Asahi Pentax memperkenalkan kamera SLRnya yang pertama. Pada tahun yang sama, citra digital yang pertama dibuat dengan menggunakan komputer oleh Russell Kirsch di U.S. National Bureau of Standards, yang sekarang bernama National Institute of Standards and Technology (NIST).
- Pada tahun 1959, Nikon F diperkenalkan. Pada tahun yang sama, AGFA memperkenalkan kamera otomatis yang pertama yaitu Optima.
- Pada tahun 1963, Kodak memperkenalkan Instamatic.
- Pada tahun 1964, Kamera Pentax Spotmatic SLR diperkenalkan.
- Pada tahun 1972, kamera Polaroid temuan Edwin Land mulai dipasarkan. Kamera Polaroid mampu menghasilkan gambar tanpa melalui proses pengembangan dan pencetakan film.
- Pada tahun 1973, Fairchild Semiconductor memproduksi sensor CCD skala besar yang terdiri dari 100 baris dan 100 kolom.
- Pada tahun 1975, Bryce Bayer dari Kodak mengembangkan pola mosaic filter Bayer untuk CCD color image sensor.
- Pada tahun 1986, ilmuwan Kodak menemukan sensor dengan kapasitas megapiksel yang pertama.
- Pada tahun 2005, AgfaPhoto menyatakan bangkrut. Produksi film konsumen bermerk Agfa terhenti.
- Pada tahun 2006, Dalsa membuat sensor CCD dengan kapasitas 111 megapixel, yang terbesar saat itu.
- Pada tahun 2008, Polaroid mengumumkan penghentian semua produksi produk film instan berkaitan dengan semakin berkembangnya teknologi citra digital.
- Pada tahun 2009, Kodak mengumumkan penghentian film Kodachrome.
- Sejarah Fotografi di Indonesia
Sejarah fotografi di Indonesia tidak lepas dari momen perjalanan bangsa dan keterkaitannya dalam perubahan sosial-politik yang terjadi di Indonesia. Fotografi mulai masuk di Indonesia pada tahun 1840 saat seorang petugas medis yang berasal dari Belanda, Juriaan Munich, diberi tugas untuk mengabadikan tanaman-tanaman serta kondisi alam yang ada di Indonesia, sebagai cara untuk mendapatkan informasi seputar kondisi alam.
Saat itu, Munich menggunakan daguerrotype, yaitu metode atau proses percetakan yang diciptakan pertama kalinya oleh dua orang sahabat dari Perancis, Louis Daguerre dan Nicophore Niepce pada tahun 1834 dan diumumkan penemuannya ditahun 1839. Munich adalah orang yang pertama kali membawa dunia fotografi ke Indonesia dan sejak saat itu, kamera menjadi bagian dari teknologi modern yang dipakai pemerintah Belanda untuk menjalankan kebijakan barunya.
Penguasaan dan kontrol terhadap tanah jajahan tidak lagi dilakukan dengan membangun benteng pertahanan atau penempatan pasukan dan meriam, melainkan dengan cara menguasai teknologi transportasi dan komunikasi modern. Dalam kerangka ini, fotografi difungsikan melalui pekerja administratif kolonial, pegawai pengadilan, opsir militer, dan misionaris.
Singkat cerita, pada akhirnya Munich tercatat dalam sejarah fotografi dan karyanya dianggap paling sukses saat itu karena ia memotret alam di Jawa Tengah yang dikenal dengan Kali Madioen. Kemudian, tugas tersebut diteruskan oleh Adolph Schaefer yang tiba di Batavia atau sekarang yang bernama Jakarta pada tahun 1844. Schaefer juga berhasil memotret objek-objek foto patung Hindu-Jawa dan foto Candi Borobudur.
Sampai akhirnya dua bersaudara asal Inggris, Albert Walter Woodbury dan James Page datang ke Indonesia pada tahun 1857, yang menjadi titik terang dimulainya sejarah pendokumentasian di Indonesia secara menyeluruh. Foto-foto yang dihasilkan kedua bersaudara ini seperti upacara-upacara tradisional, suku-suku pedalaman dan bangunan-bangunan kuno di Indonesia.
Selama 100 tahun keberadaan fotografi di Indonesia, dari tahun 1841 sampai tahun 1941, penguasaan alat ini secara eksklusif berada ditangan orang Eropa, Tiongkok, dan Jepang. Berdasarkan survei dan hasil riset pada studio foto-foto komersial di Hindia Belanda, hanya ditemukan empat orang lokal Indonesia yang menguasainya, salah satunya adalah Kassian Cephas.
Kassian Cephas adalah warga lokal asli Indonesia. Ia lahir pada tanggal 15 Februari 1844 di Yogyakarta. Cephas adalah orang pribumi asli yang kemudian diangkat sebagai anak oleh pasangan Adrianus Schalk dan Eta Philipina Kreeft, serta disekolahkan ke Belanda.
Cephas lah yang kemudian mengenalkan dunia fotografi pada masyarakat Indonesia. Meski demikian, literatur-literatur sejarah Indonesia sangat jarang menyebut namanya sebagai pribumi pertama yang berkarir sebagai fotografer profesional. Nama Kassian Cephas mulai terlacak lewat karya fotografi tertuanya pada tahun 1875.
Selain Cephas, fotografer Indonesia lainnya adalah Mendur bersaudara. Datangnya Jepang ke Indonesia pada tahun 1942 telah memberikan kesempatan bagi bangsa Indonesia untuk menyerap teknologi ini. Demi kebutuhan propagandanya, Jepang mulai melatih orang Indonesia menjadi fotografer untuk bekerja di kantor berita mereka, Domei. Pada saat itulah, Mendur bersaudara mendapat kesempatan untuk membentuk image baru tentang bangsa Indonesia.
Lewat fotografi, Mendur bersaudara berusaha menggiring mental bangsa Indonesia untuk memiliki mental yang sama tinggi dan sederajat. Frans Mendur bersama kakaknya, Alex Mendur, juga menjadi icon bagi dunia fotografer nasional. Mereka kerap merekam peristiwa-peristiwa penting bagi negeri ini, salah satunya mengabadikan detik-detik pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.
Inilah momentum di mana fotografi benar-benar sampai ke Indonesia, ketika kamera berpindah tangan dan orang Indonesia mulai bisa merepresentasikan dirinya sendiri. Karya foto monumental lainnya adalah foto pidato Bung Tomo, serta foto karya Frans Mendur yaitu foto Soeharto yang sedang menjemput Panglima Besar Jendral Soedirman sepulang dari perang gerilya di Jogja pada tahun 1949.
Jenis – Jenis Fotografi
Wah ternyata fotografi butuh perjalanan yang sangat panjang yah agar bisa menjadi secanggih sekarang. Lalu selain sejarah, tentunya yang membuat penasaran adalah ada berapa banyak sih jenis fotografi sampai saat ini? Berikut adalah ulasannya.
- Human Interest Photography
Sama halnya dengan portrait photography, subjek utama dalam human interest photography adalah manusia. Namun ada hal mendasar yang membedakan keduanya. Human Interest (HI) lebih menonjolkan sisi kehidupan dan interaksi manusia dengan lingkungan sekitarnya dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, lewat momen-momen yang dibidik, fotografer diharapkan mampu membangkitkan perasaan empati maupun simpati si penikmat foto.
- Portrait Photography
Setiap orang memiliki karakteristik dan kepribadian yang unik. Itulah yang menjadi kekuatan utama dari portrait photography. Bukan hanya menampilkan foto orang semata, portrait photography yang baik mampu menangkap ekspresi, mimik, kepribadian, suasana hati seseorang agar foto yang dihasilkan lebih berkesan. Untuk itu, wajah seseorang menjadi fokus utama agar kesan emosional dapat dimunculkan. Meski demikian, hal-hal lain seperti latar belakang, pencahayaan maupun gesture juga tidak bisa dilupakan.
- Aerial Photography
Jika Anda melihat suatu subjek yang seolah-olah Anda melihatnya dari atas, itulah yang disebut dengan aerial photography. Foto-foto aerial membuat Anda layaknya seekor burung yang sedang terbang di udara. Jenis fotografi ini mempunyai ciri khusus yang sangat unik, yaitu teknik pengambilan gambar atau angle yang dilakukan dari atas. Untuk bisa melakukannya, sang fotografer membutuhkan alat bantu khusus seperti drone atau dengan naik kendaraan udara seperti helikopter dan pesawat.
- Stage Photography
Buat Anda penikmat musik atau suka dengan pertunjukan budaya dan teater, jenis fotografi ini pasti sangat menarik. Anda bisa memotret secara langsung artis atau penyanyi idola Anda saat mereka tampil di atas panggung. Jenis fotografi ini sering disebut dengan stage photography. Gerakan orang yang tampil di atas panggung sulit untuk diprediksi. Ditambah lagi dengan tata cahaya (lighting) yang sering berubah-ubah. Oleh karena itu, kecepatan dalam mengambil momen yang tepat menjadi hal penting dalam stage photography.
- Landscape Photography
Keindahan alam merupakan anugerah dari Tuhan yang sangat sayang untuk dilewatkan. Anda bisa mempraktekkan landscape photography dengan memotret pemandangan alam seperti pantai atau gunung. Untuk mendapatkan hasil landscape photography yang bagus, Anda perlu mempertimbangkan momen yang tepat untuk memotret. Misalnya saat matahari terbit atau tenggelam jika cuaca sedang cerah.
- Wildlife Photography
Memotret kehidupan alam liar di habitat aslinya sungguh menantang bagi siapa saja. Di alam liar, Anda akan bertemu secara langsung dengan aneka jenis hewan yang bebas berkeliaran. Tentu saja itu memberikan sensasi tersendiri dan bisa memicu adrenalin. Apalagi jika hewan yang Anda temui adalah satwa buas seperti si raja hutan misalnya. Jenis fotografi ini umumnya hanya dilakukan oleh para fotografer profesional yang menjadi kontributor sebuah media.
- Macro Photography
Objek-objek berukuran kecil seperti hewan serangga, tumbuhan atau bunga yang berada di sekitar kita seringkali luput dari perhatian dan pandangan mata. Namun tidak bagi para pecinta macro photography. Macro photography yaitu membuat subjek berukuran kecil terlihat sangat dekat dan menampilkan detail yang tinggi. Untuk melakukannya, Anda memerlukan kamera DSLR maupun kamera smartphone yang dilengkapi dengan fitur zoom agar bisa menangkap detail subjek yang difoto.
- Fashion Photography
Keindahan desain pakaian seperti baju dengan aneka motif, celana maupun aksesoris fashion lainnya menjadi titik fokus utama dalam fashion photography. Memang tidak bisa dipungkiri, peran model menjadi signifikan dalam fashion photography yang membuatnya sering dicampuradukkan dengan portrait photography. Keduanya bisa saja hadir dalam waktu yang bersamaan karena sama-sama menampilkan orang. Namun, dalam fashion photography yang menjadi penekanan adalah desain pakaian agar orang yang melihatnya tertarik untuk membeli.
- Street Photography
Realitas yang terjadi di jalanan merupakan prinsip utama dalam aliran street photography. Mungkin terlihat sama dengan human interest maupun photojournalism. Beberapa genre fotografi tersebut memang saling berhubungan. Namun ada ciri khusus yang membedakan street photography dengan jenis fotografi lainnya. Street photography merupakan suatu pendekatan yang berusaha menampilkan realitas sesungguhnya yang terjadi di ruang publik secara spontan.
- Photojournalism / Journalism Photography
Jenis fotografi ini umumnya dilakukan oleh fotografer yang menjadi kontributor sebuah media. Tujuan utama journalism photography yaitu menyajikan foto yang memiliki cerita atau nilai berita. Kemudian, foto tersebut digunakan untuk keperluan penayangan berita atau publikasi dimedia massa. Subjek-subjek yang diambil untuk photojournalism merupakan hal-hal atau kejadian yang terjadi di sekitar kita. Prinsip utama dalam photojournalism yaitu foto yang dihasilkan merupakan kejadian sesungguhnya yang tanpa rekayasa dan tanpa memihak.
- Architectural Photography
Sesuai namanya, architectural photography menampilkan keindahan bentuk bangunan atau gedung sebagai subjek utamanya. Sang fotografer harus jeli memperhatikan setiap sudut dan celah bangunan agar memperoleh komposisi yang ritmis. Selain itu, angle pemotretan juga menjadi faktor penting agar foto yang dihasilkan tidak terlihat statis. Architectural photography sering dipakai untuk keperluan komersial, misalnya untuk promosi hotel, apartment, maupun real estate.
- Sport Photography
Olahraga tidak hanya mempertunjukkan kebolehan sang atlet di arena pertandingan. Dalam olahraga, ada banyak momen dramatis dan menegangkan yang sangat menarik untuk diabadikan dalam kamera. Setelah itu, muncul istilah sport photography yang berusaha mengabadikan setiap kejadian menarik di tengah lapangan atau lintasan. Untuk menangkap subjek secara lebih dekat, sang fotografer biasanya menggunakan kamera dengan lensa tele.
- Still Life Photography
Tantangan terbesar yang dihadapi sang fotografer dalam menerapkan still life photography yaitu bagaimana membuat objek atau benda mati terlihat lebih hidup. Dengan kata lain, subjek yang difoto tidak hanya menampilkan benda mati semata. Lebih dari itu, still life photography mampu bercerita kepada penikmat foto lewat komposisi, properti, dan pencahayaan yang bagus. Layaknya lukisan, still life photography terlihat abstrak namun mempunyai makna atau maksud tertentu dibaliknya. Jenis fotografi ini sering digunakan untuk keperluan komersial seperti iklan dengan menonjolkan bentuk atau tampilan produk.
- Wedding / Event Photography
Event pernikahan merupakan momen langka yang mungkin terjadi satu kali seumur hidup. Untuk itulah, momen tersebut menjadi sangat spesial bagi orang-orang yang terlibat di dalamnya dan perlu diabadikan. Sehingga, muncul istilah wedding atau prewedding photography yang mengabadikan pengantin saat berada di pelaminan maupun kejadian-kejadian sesudah maupun setelahnya. Dalam ruang lingkup yang lebih luas, wedding photography bisa dikategorikan sebagai event photography. Contoh lain dari event photography yaitu mengabadikan acara wisuda yang menjadi moment spesial tidak terlupakan bagi yang menjalaninya.
- Commercial / Advertising Photography
Kehadiran foto yang menarik dalam sebuah iklan sangat membantu dalam menciptakan image positif dibenak audience. Peran fotografer dalam pembuatan sebuah iklan cetak berpengaruh sangat signifikan. Commercial atau advertising photography sangat luas cakupannya dan bisa meliputi fashion, still life, food maupun architectural photography. Yang menjadi ciri khusus commercial photography yaitu fotografi jenis ini ditujukan untuk kepentingan komersial seperti pembuatan iklan.
- Food Photography
Food photography lebih dari sekadar menampilkan makanan dalam piring agar orang merasa lapar atau timbul selera untuk makan. Sang fotografer harus mampu menciptakan komposisi yang bagus dan memperlihatkan detail atau tekstur makanan. Untuk menampilkan tekstur makanan secara detail, faktor pencahayaan yang bagus menjadi hal yang mutlak diperlukan.
- Black and White Photography
Pada awal sejarah fotografi, black and white photography adalah satu-satunya pilihan seorang fotografer untuk mengambil gambar. Bahkan ketika foto berwarna sudah tersedia, foto hitam-putih pada awalnya mempunyai kualitas yang lebih baik dan lebih murah untuk dikembangkan daripada foto berwarna.
Seiring dengan kualitas foto berwarna yang semakin baik, foto berwarna menjadi pilihan yang lebih populer sehingga menyebabkan black and white photography kurang populer. Akan tetapi, black and white photography saat ini lebih cenderung digunakan untuk menimbulkan efek tertentu yang bisa didapat dari berbagai aplikasi editing foto sehingga foto yang dihasilkan lebih bermakna dan menarik.
- Panning Photography
Panning adalah salah satu teknik fotografi yang digunakan untuk menangkap gerakan benda yang bergerak. Ide dibalik teknik panning ini adalah untuk mengatasi masalah dalam menangkap objek yang bergerak cepat. Ciri-ciri dari panning photography adalah fokus dengan tajam terhadap objek yang bergerak sedangkan backgroundnya blur atau kabur. Fotografi jenis ini bisa didapat dengan memanfaatkan shutter speed yang rendah.
- Tilt Shift Photography
Tilt shift photography adalah teknik fotografi yang bertujuan untuk mendapatkan hasil foto yang tampak seperti miniatur. Teknik tilt shift ini menggunakan lensa khusus yang dikembangkan untuk memperbaiki perspektif dan mengatasi distorsi dengan cara mengubah sudut lensa terhadap media film atau sensor.
Namun salah satu efek yang paling nyata dari penggunaan lensa tilt shift adalah menyempitnya ruang tajam atau Depth of Field (DoF) sehingga bisa menciptakan efek seperti miniatur. Seiring dengan perkembangan teknologi digital, tilt shift photography dapat dibuat dengan memanfaatkan aplikasi photo editor seperti Photoshop.
- Light Painting Photography
Light painting photography atau melukis dengan cahaya sangatlah unik. Memotret dengan teknik light painting adalah hal yang sangat menyenangkan dan salah satu penggunaan kreatif dari shutter speed. Dalam light painting photography, Anda harus membuka shutter dalam waktu yang cukup lama (long exposure), memotret dalam kegelapan dan mengarahkan sumber cahaya terarah misalnya lampu senter pada beberapa titik objek foto dalam rentang sepanjang shutter terbuka.
- Documentary Photography
Foto dokumenter menceritakan sebuah peristiwa dengan gambar. Perbedaan utama antara journalism photography dan documentary photography adalah documentary photography dimaksudkan sebagai dokumen sejarah era politik atau sosial, sementara journalism photography berisi peristiwa atau kejadian tertentu saja.
Seorang fotografer dokumenter mungkin memotret serangkaian gambar dari tunawisma di pusat kota atau rangkaian peristiwa pertempuran internasional. Setiap topik dapat menjadi subyek documentary photography. Seperti journalism photography, documentary photography berusaha untuk menunjukkan kebenaran tanpa memanipulasi gambar.
Seorang fotografer dokumenter mungkin memotret serangkaian gambar dari tunawisma di pusat kota atau rangkaian peristiwa pertempuran internasional. Setiap topik dapat menjadi subyek documentary photography. Seperti journalism photography, documentary photography berusaha untuk menunjukkan kebenaran tanpa memanipulasi gambar.
- Micro Photography
Micro photography menggunakan kamera khusus dan mikroskop untuk menangkap gambar objek yang sangat kecil. Kebanyakan micro photography paling cocok diaplikasikan untuk dunia ilmiah, misalnya fotografi yang digunakan dalam disiplin ilmu yang beragam seperti astronomi, biologi dan kedokteran.
- Glamour Photography
Orang awam kadang-kadang menyamakannya dengan pornografi, mungkin karena menampilkan keseksian dan erotis, tetapi sebenarnya fotografi jenis ini bukanlah suatu hal yang porno. Alih-alih berfokus pada ketelanjangan atau pose seram, glamour photography berusaha untuk menangkap objek dalam pose yang menekankan kurva dan bayangan. Seperti namanya, tujuan dari glamour photography adalah untuk menggambarkan model dalam cahaya glamor.
- Underwater Photography
Underwater photography biasanya digunakan oleh penyelam scuba atau perenang snorkel. Namun, biaya scuba diving ditambah dengan peralatan fotografi yang mahal dan berat di bawah air, membuat salah satu jenis fotografi ini kurang umum dalam dunia fotografi. Demikian pula jika seorang fotografer amatir yang sudah memiliki peralatan fotografi bawah air dan peralatan scuba, mengambil gambar bawah air dapat menjadi sesuatu yang sulit, karena kacamata scuba yang besar dan mendistorsi penglihatan si fotografer.
- Fine Art Photography
Fine art photography yang juga dikenal sebagai fotografi seni, mengacu pada cabang fotografi yang didedikasikan untuk memproduksi foto untuk tujuan murni estetika. Fine art photography biasanya dipajang di museum dan galeri, umumnya berkaitan dengan penyajian benda-benda yang indah atau benda biasa dengan cara yang indah untuk menyampaikan intensitas dan emosi.
- Travel Photography
Travel photography adalah jenis fotografi yang melibatkan dokumentasi pemandangan suatu daerah, orang, budaya, adat istiadat dan sejarah. Society of America Photography mendefinisikan travel photography sebagai foto yang mengekspresikan perasaan dari waktu dan tempat, menggambarkan daerah, orang-orangnya, budaya dalam keadaan aslinya, dan tidak memiliki keterbatasan geografis.
Travel photography dapat dibuat oleh para profesional atau amatir. Contoh dari travel photography profesional dapat ditemukan dimajalah National Geographic. Travel photography amatir sering dibagi secara online melalui situs berbagi foto seperti Flickr atau situs jejaring social seperti Facebook.
- Vernacular Photography
Vernacular photography sering disebut juga dengan fotografi amatir karena mengacu kepada penciptaan foto oleh fotografer amatir atau fotografer yang tidak dikenal yang mengambil foto kehidupan sehari-hari dan hal-hal yang umum sebagai objek. Contoh dari vernacular photography adalah foto perjalanan dan liburan, foto-foto keluarga, foto teman-teman, foto, dll.
- Night Photography
Night photography adalah pengambilan foto outdoor pada saat senja atau malam hari. Karena kurangnya cahaya yang tersedia dalam fotografi malam hari, fotografer akan menggunakan pencahayaan buatan atau menggunakan eksposure yang lama untuk memastikan bahwa sensor cukup menerima cahaya dari objek.
- Infrared Photography
Infrared photography mengacu pada jenis fotografi di mana foto yang diambil sensitif terhadap cahaya inframerah. Dalam infrared photography, biasanya fotografer menggunakan filter yang hanya melewatkan panjang gelombang inframerah menuju sensor dan menghasilkan sebuah foto. Panjang gelombang warna untuk foto yang biasa adalah 400 nm (nano meter) hingga 700 nm, sedangkan infrared mempunyai panjang gelombang 700 nm sampai 1200 nm.
Hasil dari infrared photography bisa menjadi foto hitam-putih yang kontras atau foto false-color, seperti contohnya warna daun yang hijau segar akan terlihat putih, pemandangan yang panas akan tampak seperti di musim salju dan seperti di dunia lain.
- Ballistics Photography
Ballistics photography adalah jenis fotografi yang berhubungan dengan pengambilan foto dari peluru yang ditembakkan menggunakan pistol atau peluru yang menembus target masing-masing. Teknik-teknik yang terlibat dalam mengambil foto balistik adalah sama dengan setiap subjek lain dari fotografi yang memerlukan kecepatan tinggi, seperti gambar dari percikan cairan atau popping balon.
Seperti halnya fotografi khusus yang lain, ballistics photography menuntut seperangkat peralatan tertentu. Selain flash berkecepatan tinggi, seorang fotografer juga perlu pemicu untuk menyelaraskan kecepatan flash dengan kamera yang berkecepatan tinggi.
- War Photography
War photography menangkap foto dari konflik bersenjata dan kehidupan di daerah yang dilanda perang. Meskipun foto-foto dapat memberikan representasi langsung daripada lukisan atau gambar, foto-foto tersebut kadang-kadang dimanipulasi sehingga menciptakan foto yang tidak obyektif dalam jurnalistik.
- Chronophotography
Chronophotography adalah fotografi yang menangkap pergerakkan dari waktu ke waktu melalui serangkaian gambar diam, kemudian digabungkan menjadi satu foto untuk analisis selanjutnya.
- Forensic Photography
Forensic photography adalah seni menghasilkan reproduksi yang akurat dari TKP atau lokasi kecelakaan untuk kepentingan pengadilan atau untuk membantu dalam penyelidikan. Ini adalah bagian dari proses pengumpulan bukti. Membantu penyidik dengan menyediakan foto-foto tubuh, tempat dan item yang terlibat dalam kejahatan. Contohnya adalah gambar kecelakaan akibat mesin yang rusak atau kecelakaan mobil, dan sebagainya. Fotografi jenis ini melibatkan pencahayaan yang benar dan sebuah koleksi dari sudut pandang yang berbeda.
- Heliography
Heliography adalah proses fotografi yang diciptakan oleh Joseph Nicephore Niepce sekitar tahun 1824, yang digunakan untuk membuat foto permanen yang dikenal paling awal dari alam, “View From The Window at Le Gras”. Proses tersebut menggunakan aspal sebagai lapisan pada kaca atau logam, yang mengeras dalam kaitannya dengan eksposure terhadap cahaya. Ketika piring itu dicuci dengan minyak lavender, hanya bidang gambar yang tetap mengeras.
- High Dynamic Range Photography
Dalam pengolahan gambar, komputer grafis, dan fotografi, high dynamic range photography (HDRI atau HDR) adalah seperangkat teknik yang memungkinkan jangkauan dinamis yang lebih besar dari iluminances antara area terang dan paling gelap dari sebuah gambar daripada teknik-teknik pencitraan digital standar atau metode fotografi.
Jangkauan dinamis yang lebih luas ini memungkinkan gambar HDR untuk lebih akurat mewakili berbagai tingkat intensitas yang ditemukan pada adegan-adegan nyata, mulai dari sinar matahari langsung sampai cahaya bintang.
- Panoramic Photography
Panoramic photography adalah teknik fotografi dengan menggunakan peralatan atau software khusus yang menangkap gambar dengan bidang pandang memanjang. Kadang-kadang dikenal sebagai fotografi format lebar. Meskipun tidak ada pembagian resmi antara wide angle dan panoramic photography, wide angle biasanya mengacu pada jenis lensa, tapi jenis lensa ini tidak selalu menghasilkan gambar panorama.
Beberapa foto panorama memiliki aspek rasio 4:1 dan terkadang 10:1, yang meliputi bidang pandang hingga 360 derajat. Kedua aspek rasio dan cakupan lapangan merupakan faktor penting dalam menentukan sebuah gambar panorama sejati.
- Rembrandt Photography
Rembrandt photography adalah teknik pencahayaan yang kadang-kadang digunakan di studio foto. Hal ini dapat dicapai dengan menggunakan satu cahaya dan sebuah reflektor atau dua lampu, dan sangat populer karena dapat menghasilkan gambar yang tampak alami dan menarik dengan menggunakan peralatan yang minimal. Jenis fotografi ini diambil dari nama pelukis Belanda, Rembrandt, yang dikenal karena menggunakan cahaya.
- Rephotography
Rephotography adalah tindakan mengulangi fotografi dari situs yang sama, dengan waktu jeda antara dua gambar, foto dulu dan sekarang yang dilihat dari suatu daerah tertentu. Biasanya diambil dari titik pandangan yang sama tetapi tanpa memperhatikan musim, lensa cakupan atau pembingkaian. Beberapa sangat tepat dan melibatkan studi yang cermat terhadap gambar asli.
Sumber link:
https://id.wikipedia.org/wiki/Fotografi





